Menenun Asa Dewi Sumba

28 Juni 2021 - 09:52 WIB | mahmud |

Cover Depan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Desa wisata dalam kurun waktu lima tahun terakhir menjadi ramai diperbincangkan baik oleh kalangan pembuat kebijakan hingga masyarakat biasa. Sektor wisata menjadi sumber penghidupan baru masyarakat desa yang selama ini banyak mengandalkan basis ekonomi sektor primer. Pemerintah Desa juga memandang bahwa menghidupkan pariwisata adalah cara instan meningkatkan

Pendapatan Asli Desa cukup dengan melakukan penyertaan modal ke Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa). Tidak dapat dipungkiri bahwa hadirnya wisata di desa telah membuat desa menjadi sumber penghidupan baru, bahkan terjadi return migration yang memanggil banyak para pemuda desa yang selama ini menggantungkan hidup di kota akhirnya tertarik kembali ke desa. Desa pun menjadi daya tarik baru wisatawan kota yang ingin kembali merasakan kenaturalan alam pedesaan.

Inilah yang ditangkap oleh Pemerintah sebagai fenomena baru yang perlu mendapat apresiasi dan fasilitasi melalui kebijakan. Walhasil, RPJMN 2020-2024 mulai banyak berfokus pada upaya untuk menghidupkan sektor pariwisata yang berbasis desa dan komunitas. Begitu juga dengan Pemerintah Daerah, mulai menyambut kebijakan tersebut dengan regulasi turunan di daerah, memfasilitasi desa menuju terbentuknya desa wisata dan wisata desa. Tidak terkecuali bagi Pemerintah Sumba Barat Daya yang juga menyadari akan besarnya potensi-potensi wisata di desa SBD yang kaya akan potensi alam dan budaya.

Namun hidupnya sektor pariwisata di desa memang tidak dapat hanya dilihat dari aspek manisnya saja, artinya bukan tanpa tantangan, inilah yang penting diantisipasi baik oleh kebijakan lokal maupun dalam membangun tatakelola kelembagaan di tingkat desa. Hadirnya program “Memperkuat Desa dalam Mengembangkan Pariwisata berbasis Sumber Daya Alam dan Budaya Setempat” yang didukung oleh William and Lily Foundation, berkepentingan untuk mendorong lahirnya kebijakan dan tatakelola pengembangan sektor pariwisata di desa yang berkelanjutan dan inklusif guna menjaga kelestarian alam dan budaya lokal.

Memilih sustainable tourism dan sosial inclusion sebagai perspektif yang digunakan dalam intervensi program IRE sesungguhnya berangkat dari upaya IRE untuk menjaga kehidupan yang lestari dan sejahtera di desa, terlebih salah satu lokasi program ini berada di Kampung Adat Ratenggaro (KAR) yang memiliki budaya tradisi yang sangat kuat. Buku ini menceritakan bahwa menjadikan kampung adat sebagai destinasi wisata bukan perkara yang mudah, dibutuhkan kehati-hatian agar jangan sampai kehadiran pariwisata justru berkontribusi mencederai adat budaya lokal. Begitu juga dengan upaya mendorong Desa Pero Konda menjadi Desa Wisata dihadapkan pada tantangan kemapanan ekonomi masyarakat pesisir yang sudah mampu bertahan hidup dari hasil tangkapan laut.

Kurun waktu dua tahun memang belum cukup sekedar untuk mempersiapkan desa wisata, karena untuk mempersiapkan desa wisata, justru tantangan pentingnya adalah membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya mengembalikan dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya yang ada di desa, menjaga harmoni antara manusia dan alam, serta mengembangkan ekonomi lokal yang inklusif berbasis aset desa. Dalam buku ini, IRE baru mampu menceritakan tentang pentingnya dukungan dan fasilitasi penting Pemerintah Daerah untuk melahirkan kebijakan yang komprehensif, termasuk yang didukung oleh sektor-sektor pendukung pariwisata. IRE juga baru mulai melakukan penataan kelembagaan pengelola wisata dan BUM Desasebagai kelembagaan ekonomi yang ada di desa. IRE punmasih terus berproses melakukan pemetaan, penataan, dan pengelolaan potensi-potensi yang dapat mendukung desa wisata. Artinya, pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan masih sangat banyak untuk mewujudkan mimpi Bersama ini yang bukan hanya menjadi mimpi IRE saja, melainkan mimpi Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, Kelompok Pengelola Wisata, BUM Desa dan Masyarakat yang telah merumuskan Visi Perubahan di Desa secara partisipatif.

Kehadiran sektor wisata di desa idealnya mampu menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan, yaitu: adil terhadap kapasitas alam, adil terhadap adat istiadat dan kehidupan social masyarakat lokal serta adil terhadap kebutuhan ekonomi masyarakat, khususnya kelompok rentan dan marginal di desa.

IRE berharap bahwa buku ini bisa menjadi bacaan yang “renyah” untuk dinikmati oleh semua kalangan yang tertarik untuk mengembangkan desa wisata dan wisata desa, meski kami pun tidak berharap semua desa harus menjadi desa wisata. Pariwisata adalah sumber penghidupan alternative yang dapat dikembangkan oleh desa, namun tidak harus menghilangkan basis penghidupan utama masyarakat desa.

Pandemi COVID-19 cukup menjadi pembelajaran bagi desa-desa yang selama ini justru memilih beralih menjadi desa wisata dan kehilangan basis ekonomi sektor primernya, pada akhirnya harus mengalami guncangan berat karena kebijakan pembatasan sosial yang membuat masyarakat yang hidup di sektor tersier harus kehilangan pekerjaan untuk kurun waktu yang cukup lama. Melalui buku ini, besar harapan kami agar maraknya pembangunan desa wisata saat ini mampu berkontribusi pada terciptanya pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif di desa berbasis aset dan potensi lokal.

Silahkan Download Buku DISINI



Leave a comment:

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

*