Screen Shot 2021-08-16 at 17.12.15

Konflik tenurial di sektor perkebunan menunjukkan tren peningkatan. Data KPA (2017) menyebutkan peningkatan konflik agraria dari 450 kasus pada tahun 2016 menjadi 659 kasus pada 2017, dengan luasan 520.491,87 hektare dan melibatkan 652.738 kepala keluarga. Dari data tersebut, sektor perkebunan masih menempati peringkat pertama sebanyak 208 kejadian. 1Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan sebanyak dua kali lipat luasan wilayah konflik di sektor ini. Di urutan kedua, luasan wilayah konflik terjadi di sektor kehutanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa monopoli penguasaan kawasan hutan menjadi salah satu penyebab maraknya konflik agraria yang melibatkan aktor swasta, negara, dan komunitas masyarakat di sekitar hutan.

Ekstensifikasi sawit memicu ekspansi lahan ke kawasan hutan. Luas areal perkebunan sawit secara keseluruhan di Indonesia mengalami peningkatan dari 11,91 juta ha pada 2016 menjadi 12,30 juta ha pada tahun 2017. Secara lebih rinci, luas areal kebun sawit rakyat mencapai 4,7 juta ha, sementara luas kebun sawit perusahaan mencapai 6,7 juta ha.2 Dengan tren peningkatan luasan kebun sawit rakyat secara umum, diperkirakan luas kebun sawit rakyat hampir mendekati angka luasan kebun sawit perusahaan. Meski demikian, produktivitas sawit rakyat selalu di bawah angka produktivitas perusahaan. Tahun 2015 laju produktivitas perusahaan swasta mencapai 3.948 kg/ha, sementara produktivitas sawit rakyat berada di angka 3.147 kg/ha.

Download Working Paper DISINI



Leave a comment:

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

*