Screen Shot 2020-05-02 at 08.17.52Desember selalu mengingatkan IRE akan sejarah besar bangsa ini yang pada akhirnya mampu mengesahkan kelahiran UU Desa, tepatnya pada tanggal 18 Desember 2013 saat Sidang Paripurna DPR. Sebuah momentum penting yang akan selalu dikenang dan direfleksikan oleh IRE setiap tahunnya sebagai salah satu lembaga yang turut mengawal proses panjang advokasi RUU Desa sejak Tahun 2007. Saat ini bertepatan dengan 4 tahun kehadiran UU Desa, dimana meski substansinya memberikan diskresi yang besar bagi desa dalam menjalankan kewenangannya, namun masih banyak tantangan baik terkait kebijakan turunannya, maupun prakteknya di desa.

Namun IRE melihat bahwa ada dinamika yang sangat bermakna terjadi di desa hari ini, bukan hanya di tingkat Pemerintah Desa dan BPD, malainkan juga pada tingkat Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD), komunitas dan warga. Mulai muncul begitu banyak aktor-aktor lokal yang berinovasi menciptakan perubahan positif di desa, begitu juga Pemerintah Desa dan BPD yang terus berbenah dan beradaptasi bukan hanya dengan aspek-aspek administrasi dan teknokrasi, melainkan juga mendorong program-program pemberdayaan masyarakat dalam rangka menyelesaikan persoalan-persoalan krusial di desa, terutama dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Desa pun mulai sensitif pada kebutuhan kelompok-kelompok rentan dan marginal serta mengupayakan untuk menyusun program dan anggaran yang menjawab kepentingan kelompok ini, baik dari penyiapan infrastruktur yang ramah bagi penyandang disabilitas, pemberdayaan ekonomi bagi keluarga miskin dan perempuan kepala keluarga, hingga membuka akses kelompok rentan dan marginal terlibat dalam proses perencanaan dan penganggaran desa. Meski embrio tentang nilai-nilai inklusi sosial tersebut sudah bermunculan, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak juga desa yang belum sensitif untuk itu. Salah satu tulisan dalam Flamma edisi 51 ini pun mengajak Pemerintah Desa untuk beraksi dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut.

Selain itu, FLAMMA ini juga menceritakan tentang tantangan dan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh BUM Desa dalam rangka mewujudkan tujuan sosialnya, serta cerita tentang representasi alternatif sebagai upaya penguatan demokrasi di tingkat lokal. Ada pula cerita tentang Pemilukada dan keterkaitannya dengan kesejahteraan sebagai catatan penting demokrasi lokal di negeri ini.

IRE berharap bahwa cerita yang tersaji dalam artikel FLAMMA edisi 51 yang mengambil tema “Sinergi Aktor Perubahan dan Kelembagaan Desa” ini dapat memberikan inspirasi perubahan serta mengajak pembaca untuk kritis terhadap kebijakan yang berimplikasi bagi negeri ini, termasuk desa.

Edisi Flamma 51 Bisa di Download DISINI



Leave a comment:

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

*