WhatsApp Image 2020-05-12 at 11.11.29-2

Krisis bahan pangan mengancam di tengah pandemi ini. Presiden Jokowi merincikan, terjadi defisit persediaan stockbahan pangan seperti beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, cabai merah dan telur ayam yang tersebar disejumlah provinsi. Sementara itu, pasokan gula pasir diperkirakan defisit di 30 provinsi dan stok bawang putih defisit di 31 provinsi. Seperti yang dilansir dari Republika, untuk menangani ancaman krisis bahan pangan tersebut, Jokowi meminta kalkulasi kebutuhan pangan dapat dilakukan agar untuk mengetahui data surplus dan defisit pangan di setiap daerah, distribusi bahan pokok pun diminta agar dijalankan dengan baik agar tidak menghambat transportasi distribusi pangan antar daerah.

Desa sebagai sumber pengaman produksi dan rantai pasok pangan menjadi benteng pertahanan bagi stabilitas pangan yang akan didistribusikan hingga ke daerah perkotaan. Jokowi meminta petani di desa-desa terus berproduksi untuk menjaga stabilitas rantai pasok pangan. Kondisi ini semakin menyadarkan kita bahwa daulat pangan lokal harus diperkuat dengan berbagai upaya alternatif.

WhatsApp Image 2020-05-12 at 11.11.29

Kedaulatan Pangan sendiri adalah konsep pemenuhan pangan melalui produksi lokal dengan mempertimbangkan  pemenuhan hak atas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai secara budaya, diproduksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.Artinya, kedaulatan pangan sangat menjunjung tinggi prinsip diversifikasi pangan sesuai dengan budaya lokal yang ada. Kedaulatan pangan juga merupakan pemenuhan hak manusia untuk menentukan sistem pertanian dan pangannya sendiri yang lebih menekankan pada pertanian berbasiskan keluarga—yang berdasarkan pada prinsip solidaritas.

Memperkuat daulat pangan lokal, berarti bukan hanya memperbanyak produksi, tapi juga memperkuat dan menjamin kesejahteraan hidup para petani desa, melindungi hak-hak mereka, dan melindungi aksesnya terhadap sumber produksi. Penguasaan lahan dalam skala besar baik oleh negara maupun swasta telah meminggirkan para  petani, akses petani terhadap sumber produksi seperti tanah bahkan pupuk dan benih menjadi salah satu hambatan yang mengancam daulat pangan lokal.

Pandemi menyadarkan kita bahwa peran petani desa sangat vital sebagai benteng pertahanan pangan, maka dari itu kebijakan pemerintah dalam merespon Covid-19 harus berpihak pada para petani dan kaum marginal di desa. IRE sebagai NGO yang bergerak dalam bidang advokasi tentu tidak hanya berfokus pada upaya pendorongan implementasi kebijakan desa yang responsif Covid-19. Upaya untuk membangun insiasi lokal bersama masyarakat desa juga tidak luput dari perhatian. Untuk merespon ancaman krisis bahan pangan, IRE menginisiasi gerakan daulat pangan desa di masa pandemi dengan beberapa aktivitas. Pertama, pelibatan peran pemuda desa untuk mengembangkan model penanaman pangan yang sederhana, akan tetapi juga modern, seperti hidroponik. Kedua, pelibatanperempuan dan kaum ibu desa untuk memulai kebun keluarga. Ketiga, penanaman di kebun kolektif sebagai upaya gotong-royong dalam menjaga kedaulatan pangan tersebut.

WhatsApp Image 2020-05-12 at 11.11.28

Yang Muda Yang Menanam

Inisiasi gerakan menanam untuk daulat pangan di masa pandemi ini dimulai dengan aksi Muda Menanam, di mana IRE merangkul para pemuda lokal di desa untuk berlatih menanam sayur dengan teknik hidroponik.Traineratau pelatih dalam kegiatan ini pun adalah pemuda lokal desa yang telah lebih dulu memulai gerakan hidroponik. Pelatihan dilaksanakan dengan tetap menerapkan prinsip keamanan Covid-19.

“Kita melihat bahwa pemuda desa memiliki potensi untuk mengembangkan pertanian modern dengan cara yang sederhana dan mudah. Hal ini bukan hanya akan berguna saat masa pandemi, tapi juga bisa menjadi peluang usaha bagi mereka. Melalui pelatihan penanaman hidroponik ini, IRE ingin melibatkan peran aktif pemuda untuk mulai kembali menanam dan bersama mencari jalan alternatif mengantisipasi krisis bahan pangan, kita bisa mulai dengan menanam sayur di sekitar lingkungan rumah dan komunitas untuk menjamin kebutuhan pangan keluarga saat pandemi. Pembelajaran bersama dengan hidroponik ini juga akan mempertemukan para pemuda untuk bisa saling berjejaring dan berkolaborasi,” ungkap Bambang Hudayana selaku Direktur Eksekutif IRE.

Gerakan Muda Menanam Hidroponik perdana pun sudah dimulai sejak Sabtu dan Minggu, 9 dan 10 Mei 2020, melibatkan dua kelompok pemuda lintas dusun dan lintas desa di wilayah Kecamatan Ngaglik, Sleman. Antuasisme teman-teman muda begitu terlihat saat mengikuti pengenalan dan pelatihan menanam dengan teknik hidroponik. Menurut Johan, salah satu pemuda desa yang menjadi pelatih dalam gerakan Muda Menanam ini, hidroponik merupakan salah satu upaya menanam yang paling mudah dan praktis. Di masa pandemic ini bahkan hidroponik bisa menjadi solusi untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.

“Sejak dua tahun lalu saya memulai menggeluti hidroponik. Manfaatnya sangat terasa bagi keluarga saya, kami bisa memakan sayuran sehat daan tidak perlu beli. Peluang usaha pun terbuka dari hidroponik. Bahkan dimasa pandemi seperti sekarang, hidroponik akan sangat membantu kita memenuhi kebutuhan pangan, lebih sehat dan hemat,” paparnya di Kebun Belajar IRE dalam sela-sela pelatihan Muda Menanam.

Selain bisa membantu pemenuhan kebutuhan sayuran keluarga, hidroponik juga begitu mudah dipraktikkan karena bisa memanfaatkan barang-barang bekas dan tidak membutuhkan lahan tanam yang luas.

Johan dan Heru, dua pemuda yang menginisiasi gerakan hidroponik ini bahkan tak ragu untuk mengajak anak muda desa lainnya untuk mulai kembali menanam,

“Kepada teman-teman pemuda, ayo kita hijaukan teras kita. Kita kembali menanam. Menanam bisa dengan banyak cara dan media, dan hidroponik bisa menjadi pilihan alternatif kita. Selain mudah dan murah, peluang usaha pun terbuka,” tutur keduanya kompak.

Herdina dan Yudi, dua orang pemuda dari Desa Sariharjo ini mengaku sangat mengapresiasi adanya pelatihan hidroponik. Selain memberikan insight baru mengenai penanaman hidroponik, keduanya sangat antusias bahwa hidroponik bisa jadi jalan alternatif untuk mengantisipasi krisis bahan pangan di tengah pandemi.

“Kami senang sekali bisa mendapatkan kesempatan ikut pelatihan ini, sekarang setidaknya sudah paham mengenai cara penanaman hidroponik. Ini sangat mungkin untuk kami praktikkan di rumah, apalagi saat masa krisis seperti ini, cara ini akan memudahkan kita dalam penyediaan bahan pangan yang murah dan aman. Apalagi ada potensi usaha yang bisa digeluti kedepannya,” paparnya kepada IRE.

Selain dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan dasar hidroponik, para pemuda pun diberikan alat dan media tanam hidroponik lengkap dengan benihnya untuk dapat di bawa ke rumah masing-masing, agar mereka bisa memulai belajar dan mempraktekannya di rumah. Selanjutnya, pendampingan dan asistensi online akan dilakukan untuk menjaga dan memastikan keberlanjutan pasca pelatihan. Ke depannya, Gerakan Muda Menanam Hidroponik akan dilakukan dalam beberapa serial latihan, diharapkan semakin banyak anak muda yang mau kembali menanam, selain sebagai upaya dan alternatif solusi daulat pangan di masa pandemi, hal ini juga bisa menjadi opsi usaha berkelanjutan yang potensial untuk dikembangkan oleh komunitas pemuda.

Referensi:

https://republika.co.id/berita/q9hn6j328/jokowi-akui-bahan-pangan-defisit-di-sejumlah-daerah

https://spi.or.id/isu-utama/kedaulatan-pangan/

Dinda Ahlul Latifah (Asisten Peneliti)

 



Leave a comment:

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

*