Dengan komitmen
tinggi, Pemerintah Kota Adelaide berhasil menyediakan layanan
transportasi publik yang murah, nyaman, dan aman.
Satu cerminan lagi
bagi transportasi di kota-kota di Indonesia.
Sudah hampir 2 bulan ini saya berada di Adelaide,
Ibukota Negara Bagian Australia Selatan (South Australia). Ketika
datang sekitar awal September 2008 lalu, saya betul-betul bingung
sekaligus terkesan dengan sistem transportasi yang dikembangkan di kota
ini. Bagaimana tidak, memakai jasa layanan transportasi publik sudah
menjadi andalan saya sejak di Yogyakarta dengan
Kopata-nya maupun di Jakarta dengan
Trans-Jakarta
atau Kopaja. Bukan
hendak membandingkan, namun menikmati jasa transportasi publik di
Adelaide bagi saya terasa lain.
Kebijakan transportasi publik di Adelaide diatur
oleh lembaga pemerintah bernama Department
for Transport, Energy, and Infrastructure.
Dalam departemen ini ada divisi
yang bertanggungjawab mengelola
transportasi publik bernama
Adelaide Metro
(AM).
AM memiliki sejumlah mitra
seperti Trans Adelaide yakni
A Government agency that
provides the Adelaide Metro train and tram services.lembaga
pemerintah yang menyediakan layanan kereta dan trem; Torrens Transit
(layanan bis di
jalur lingkar Timur dan Barat); SouthLink (layanan bis ke arah
jalur lingkar Utara dan Selatan); serta Transitplus (layanan bis
ke daerah perbukitan
dan sekitarnya).
Para mitra ini dikontrak selama 5 tahun dengan
opsi perpanjangan, tergantung pada kinerja dan kesepakatan nilai
kontrak. PThe contracts include
performance benchmarks which set acceptable standards for on-time
running, customer satisfaction and passenger security, fare compliance,
management of infrastructure, maintaining Quality Assurance status and
service review and improvements.PPPenilaian kinerja ini dilihat
dari berbagai aspek: harga tiket yang diberikan, kepuasan dan keamanan
penumpang serta manajemen infrastruktur (www.adelaidemetro.com.au/diakses
28 Oktober 2008).
Sejauh pengalaman saya memakai transporasti publik di
Adelaide, setidaknya
ada 3 jenis moda
transportasi publik yang lazim dikenal
yaitu bis (807 buah), kereta (94), dan trem (15).
Bisa dikatakan, semua jenis
transportasi ini terawat dengan baik dan memakai
bahan bakar gas yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Murah dan Efisien
Rata-rata penduduk di Adelaide lebih suka
menggunakan transportasi publik daripada kendaraan pribadi. George, 60
tahun, warga Australia asal Yunani yang telah 20 tahun lebih tinggal di
Adelaide, mengaku lebih suka naik bis karena lebih murah, nyaman, dan
relatif aman. “Saya memang punya mobil, tapi dengan naiknya harga
bensin, menggunakan transportasi publik lebih efisien dan murah,” kata
pria yang saya temui ketika sama-sama menunggu bis di sebuah halte di
daerah Goodwood
Road.
George hanya satu di antara ribuan warga kota Adelaide
yang memilih menggunakan transportasi publik. Dengan kebijakan tiket
konsesi, memakai jasa transportasi publik jelas lebih hemat. George
memberi gambaran, jika memakai mobil, harga bensin per liter sekitar $
1,45. Belum lagi biaya parkir yang biasanya dihitung per jam.
Pemerintah membuat kebijakan tiket konsesi bagi
pelajar dan mahasiswa (termasuk mahasiswa internasional), pensiunan,
veteran perang maupun orang tua. Dengan tiket konsesi ini, kita cukup
membayar separo harga dari tiket normal. Sistem
tiket ini dikenal dengan nama metroticket, sebuah sistem
otomatis yang menggunakan strip magnetik untuk mengetahui berapa kali
digunakan dan validasi jam penggunaan. Tiket ini
bisa dibeli di kantor pos atau toko yang ditunjuk.
Menariknya, hanya dengan membeli satu tiket,
kita bisa bepergian dengan beragam jenis moda transportasi publik yang
ada (bis, kereta dan trem) tanpa harus membeli tiket lagi selama dua
jam. Artinya, jika kita masuk ke salah satu jenis transportasi publik
pada jam 9 pagi, maka kita tidak akan terkena biaya apapun untuk
bepergian hingga jam 11 pagi pada hari yang sama.
Ada tiga jenis tiket yang dikenal yakni singletrip
(sekali perjalanan), multitrip (sepuluh perjalanan) dan
daytrip (tiket harian). Data tahun 2005-2006 di situs Adelaide
Metro menunjukkan, mayoritas penumpang menggunakan multitrip
(71%) dan hanya 22 persen yang memilih menggunakan singletrip. Pilihan
untuk mengunakan tiket multitrip memang beralasan. Untuk tarif normal,
kita dikenakan biaya $ 15.30 jika melakukan perjalanan pada Senin-Jumat
pada jam 9 pagi hingga 3 sore. Adapun tarif konsesinya hanya $ 7.30.
Tiketnya berwarna hitam.
Jika kita hendak bepergian selain waktu tersebut dan
pada Sabtu-Minggu, maka tarif normalnya adalah $ 27.80 dan jika
menggunakan tarif konsesi hanya sebesar $ 13.80. Tiketnya berwarna
merah. Untuk jenis multitrip ini bisa digunakan kapan saja selama 10
kali perjalanan, tergantung pemakaian kita. Bandingkan dengan harga
singletrip yang mencapai $ 2.10 untuk harga konsesi atau $ 4.20
untuk non-konsesi.
Setiap tiket dimasukkan ke kotak yang disebut
validator machine. Jangan coba memasukkan tiket yang sudah
kadaluarsa atau tiket konsesi padahal kita tidak masuk dalam kategori
tersebut. Jangan pula tidak memasukkan tiket sama sekali.
Jika kebetulan ada pemeriksaan dan kita melakukan
pelanggaran, dendanya sangat tinggi.
Jangan bayangkan ada semacam kondektur di angkutan
publik. Setiap bis hanya ada satu sopir. Bila hendak naik bis, kita
cukup berdiri di dekat halte dan melambaikan tangan. Jika hendak
berhenti, kita cukup memencet bel yang ada di hampir tiap kursi dan
sopir akan berhenti di halte berikutnya.
Tepat Waktu dan Aman
Sistem transportasi publik di Adelaide terencana
baik dan dijalankan secara profesional. Setiap bis punya jadwal yang
ditentukan sedemikan rupa di tiap haltenya. Artinya, kita cukup
mengetahui jadwal bis melewati halte tempat kita menunggu. Misalnya,
saya hendak ke Central Market di kota. Salah satu bis yang menuju ke
sana bernomor 199. Bis itu akan melewati Halte 26 detak rumah saya
pukul 9 pagi. Nah, kita cukup menunggu bis pada jam tersebut.
Pemerintah menjamin jadwal bis tak akan jauh melenceng. Keterlambatan
maksimal hanya 15 menit. Pemerintah merilis informasi jadwal dan rute
bis di internet maupun melalui leaflet yang disediakan gratis di
tempat-tempat umum.
Di Adelaide, menjadi lelaziman untuk mendahulukan
orang tua, orang cacat, ibu hamil maupun ibu yang membawa anak ketika
kita akan menaiki bis. Jika ada orang dengan
kategori tersebut, sang sopir segera akan memiringkan bis agar mereka
bisa naik dengan nyaman dan aman. Tak hanya itu, orang tua atau difabel
juga mendapat tempat duduk di bagian depan yang lebih longgar.
Penumpang difabel dengan kursi roda diberi
tempat khusus agar tetap bisa duduk di kursi rodanya sendiri.
Bis di kota ini dilengkapi kamera guna mencegah
terjadinya kejahatan. Di beberapa halte utama, pemerintah juga memasang
kamera pengawas agar penumpang tak takut bepergian hingga larut malam.
Suatu kali saya pernah bepergian dan berhenti di sebuah halte di
pinggiran kota, Klemzig Station namanya. Di stasiun ini, kamera
pengawas memantau segala aktivitas yang ada
selama 24 jam.
Selain itu, stasiun-stasiun di Adelaide juga menyediakan lahan parkir
agar warga dari luar kota bisa memarkir mobil dan berganti dengan
transportasi publik.
Menariknya lagi, Adelaide Metro juga menyediakan
layanan bis dan trem gratis yang berkeliling di tengah kota dan
berhenti di tempat-tempat strategis seperti Victoria Square, Central
Market, atau The South Australian Museum. Karena itu, jika ingin
berkeliling kota, kita cukup menggunakan angkutan gratis yang disebut
dengan city loop ini.
Modal Komitmen
Menilik sistem transportasi di Adelaide tersebut,
terlihat bahwa pemerintah sedari awal telah berkomitmen untuk
menciptakan jaringan transportasi publik publik yang aman, nyaman, dan
murah. Dengan sistem ini, pemerintah mengajak warganya berhemat
sekaligus menyelamatkan lingkungan. Menggunakan transportasi publik,
demikian kampanye pemerintah, bisa menghemat uang hingga 10.000 dollar
Australia dan mengurangi gas rumah kaca hingga 3,1 ton.
Sistem transportasi di Adelaide juga mencerminkan
keberpihakan pemerintah kepada pelajar dan mahasiswa, orang tua,
veteran hingga pensiunan. Keamanan dan kenyamanan transportasi publik
membuat orang berpikir ulang untuk memakai mobil ketika bepergian.
Jika ada komitmen dan kemauan dari
pemerintah, menghadirkan model transportasi publik ala Adelaide di
kota-kota di Indonesia rasanya bukan mimpi.
Zaenal Anwar, Kontributor FLAMMA Adelaide-South
Australia
[
Flamma Edisi
31 Index ]