Bahasa | English

berpikir kritis, bertindak taktis untuk demokrasi...

 Jogjakarta :

 

PERSPEKTIF DIREKTUR

Kampanye Politisi Bersih dan Progresif



 Capacity Building

Sekolah Politik

Pelatihan DPRD

Sekolah Demokrasi

Kursus Keadilan Sosial

 

 

 

 

F L A M M A


 

MANIFESTO :

Industrialisasi Pedesaan dan Penghapusan Kemiskinan

Oleh Irwansyah - Dosen Fisip UI

 

Dalam alur berpikir umum, kemiskinan dipahami sebagai akibat dari tidak terintegrasinya “si miskin” dalam ekonomi pasar. Kalangan yang kritis, seperti lembaga Chronic Poverty Research Centre, Manchester, mengecam definisi seperti ini. Rekomendasi untuk mengatasi problem kemiskinan pada akhirnya tidak terhindarkan bersandar pada peran kekuatan-kekuatan pasar. (Hulme and Shepherd, 2003:404). Lebih lanjut lagi alur berpikir ini akan menyepakati bahwa ada fungsi kemitraan yang berkembang di desa antara para pelaku agribisnis. Mitra memerlukan petani produsen untuk kelangsungan usahanya, sedang petani mendapat uang untuk biaya produksi, sekaligus mendapat jaminan pasar bagi produk yang dihasilkan (Lestari dan Irawan, 2004:21).

Logika ini sejalan dengan kesimpulan Bank Dunia bahwa kebanyakan pemerintah di regional Asia Pasifik telah gagal membangun institusi dan organisasi yang efektif untuk melindungi hak kaum miskin. Institusi pengatur yang tidak dirancang dengan baik mengakibatkan berkurangnya penyediaan infrastruktur bagi kaum miskin. (World Bank, 2002:9).

Reformasi institusional dan pendekatan teknokratik yang melihat kemiskinan di pedesaan dapat dientaskan lewat rumusan kebijakan para ahli yang dianggap tepat untuk diterapkan terhadap rakyat desa bukanlah barang baru –sudah ada sejak Orde Baru. Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dari agenda industrialisasi pedesaan?

 

Kemiskinan di Pedesaan atau Proletarianisasi?

Ide industrialisasi pedesaan berangkat dari argumen yang mengikuti hasil penelitian tentang fenomena jenis pekerjaan yang berkembang di daerah rural (R.Islam:1984). Pekerjaan merupakan variabel penting dengan asumsi mengenai kemiskinan yang didefinisikan sebagai kurangnya pendapatan yang mencukupi yang didapatkan dari pekerjaan seseorang untuk hidup layak (umumnya diasumsikan minimal US$ 1 per hari). Selama ini, di pedesaan, variasi musiman pada intensitas kerja pertanian dalam pertanian tadah hujan telah mengakibatkan peningkatan pekerjaan di kegiatan non-bercocok tanam. Peningkatan ini karena proses proletarianisasi yang terjadi di pedesaan sebagai akibat meningkatnya ketidakseimbangan distribusi kepemilikan tanah dan konsekwensi dari marjinalisasi petani gurem dan tak bertanah.

Proletarianiasi inilah yang menjadi gerak konsisten pembangunan kapitalis di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Selama Orde Baru, dalam konteks kaitan desa-kota, proses industrialisasi memainkan peran signifikan dalam melahirkan kelas pekerja industrial kota (Hadiz, 2005:66). Vedi menjelaskan, krisis ekonomi telah menciptakan pengangguran dan setengah-pengangguran (underemployment). Pengalaman sejak awal krisis hingga sekarang tampaknya mendukung kesimpulan bahwa kelas proletar yang terbentuk akibat proses historis industrialisasi ini telah memilih bertahan di pusat perkotaan atau kembali ke desa untuk waktu yang terbatas, sambil mencoba sektor informal, misalnya.

 Sementara itu proses proletarianisasi di pedesaan telah mendorong kegiatan non-bercocok tanam sebagai bentuk perjuangan bertahan hidup. Selama ini, penghasilan dari kegiatan tersebut masih kurang memadai yang ditandai dengan upah yang rendah. Hubungan antara kegiatan ekonomi di desa dan kota juga masih ditandai berlimpahnya buruh murah yang memberikan keuntungan tinggi bagi pemilik modal.

Pola yang terjadi di berbagai negara menunjukkan, akibat pola panen yang bersifat musiman maka produksi pertanian sekalipun mengalami intensifikasi yang tinggi akibat industrialisasi dan penggunaan teknologi ternyata tidak akan mampu melakukan penyerapan tenaga kerja secara produktif. Pada pengalaman-pengalaman dimana terjadi keberhasilan tingkat kemiskinan berkurang secara tajam, pembangunan pedesaan dan industrialisasi pertanian berkesinambungan secara integratif dengan perluasan sektor non-agrikultur. (Mellor, 1995:9).

           

Industrialisasi Pedesaan = Pengentasan Kemiskinan?

Upaya meningkatkan kekuatan ekonomi politik proletariat pedesaan inilah yang rasanya tidak tersentuh gagasan reformasi institusional dalam agenda industrialisasi pedesaan dengan logika Neoliberalisme. Gagasan industrialisasi pedesaan yang meningkatkan otonomi desa, justru dikembangkan untuk mengaburkan kenyataan bahwa karakter dan dinamika industrialisasi nasional kita sedang mengalami krisis. Pasca krisis ekonomi 1997-98, pertumbuhan ekonomi tidak digerakkan oleh hasil produksi industri, justru ditopang tingginya konsumsi privat yang mencapai 71% pada tahun 2002. (Schwarz: 2004).

Aspirasi ideologis dari agenda industrialisasi pedesaan yang seperti ini adalah mengurangi peran Negara dari kapasitas mengintervensi pasar yang bisa dimuati kepentingan kelas-kelas sosial yang berhadapan dengan kepentingan modal di pasar. Akibatnya tidak aneh bila dalam prakteknya pemerintahan yang mencanangkan revitalisasi pertanian dan industrialisasi pedesaan justru menerapkan kebijakan yang melawan kepentingan kaum tani yaitu subsidi beras. Subsidi beras harus dieksekusi sebagai perwujudan terhadap pasar bebas, sementara komitmen memberikan nilai tambah pada produksi pertanian dari wilayah pedesaan Indonesia bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah.

Seperti di tandaskan dimuka, retorika revitalisasi pertanian dan industrialiasi pedesaan sama sekali bukan ide baru. Dan gagasan ini ternyata telah lebih banyak bertanggungjawab atas kerusakan struktur pembangunan pertanian yang peduli lingkungan dan berkesinambungan meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan.

 

[ Flamma Edisi 25 index ]

 

 

 Cari

Web IRE

 

 


 

Silahkan mengutip, mempublikasikan atau memperbanyak tulisan dengan mencantumkan copyright IRE

 

 

©2001- Institute for Research and Empowerment (IRE)
Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 9.5 Dusun Tegalrejo Rt 01/RW 09, Desa Sariharjo Kec. Ngaglik Sleman Yogyakarta 55581 Telp 0274-867686, 7482091
Email: office@ireyogya.org - http://www.ireyogya.org - http://groups.yahoo.com/group/ireyogya