Bahasa | English

berpikir kritis, bertindak taktis untuk demokrasi...

 Jogjakarta :

 

PERSPEKTIF DIREKTUR

Kampanye Politisi Bersih dan Progresif



 Capacity Building

Sekolah Politik

Pelatihan DPRD

Sekolah Demokrasi

Kursus Keadilan Sosial

 

 

 

 

F L A M M A


 

 

Lunturnya Citra Kota Pendidikan

 

Berupaya menjadi pusat pendidikan terkemuka di Indonesia, tapi kebijakan tentang pendidikan belum optimal. Lantas, bagaimana wajah pendidikan Yogyakarta saat ini?

 

Siang itu, Sabtu (6/3/2004) puluhan mahasiswa yang menamakan dirinya Aliansi Peduli Pendidikan Yogyakarta (APPY) menggelar demonstrasi sebagai wujud keprihatinan atas penggusuran SD Ambarukmo yang lokasinya dekat Hotel Ambarukmo di Jalan Solo-Yogyakarta. “Kami percaya tanah itu milik keraton. Perubahan sikap keraton yang tiba-tiba akan menggusur sekolah untuk pembangunan megamal mengusik nurani kami untuk mempertanyakan sikap Sultan Hamengkubuwono X di dalam menjaga kelangsungan pendidikan dan budaya di Yogyakarta,” seru mereka.  

Ilustrasi di atas menggambarkan dunia baru pendidikan di Yogyakarta. Suara anak-anak SD dan para gurunya yang biasanya sahut-sahutan mengejar ilmu pengetahuan, berubah menjadi suara mandor dan para tukang batu dengan semua alat beratnya guna memahat peradaban baru, sebuah megamal yang mengejar pendapatan asli daerah (PAD).

Maraknya mal di Yogyakarta hanya satu dari sekian persoalan yang dihadapi kalangan pendidikan di Yogyakarta. Dari penelusuran Flamma, tercatat sejumlah persoalan yang menjadi kerisauan praktisi dan pengamat pendidikan di Yogyakarta, seperti munculnya dua kutub sekolah yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada sekolah yang sudah mencanangkan go international, sedang di sisi lain masih banyak sekolah yang berkutat memperbaiki sarana-prasarananya.

         Selain itu, muncul banyak sekali keluhan tentang bagaimana mempertahankan citra Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan, lingkungan yang tak lagi kondusif untuk belajar, serta merebaknya budaya hedonisme dan konsumerisme akibat pembangunan mal. Di sisi lain pemerintah kurang perhatian terhadap fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung pendidikan, seperti perpustakaan maupun museum.

Pengamat pendidikan di Yogyakarta, Darmaningtyas, membenarkan kerisauan tersebut. Ia menambahkan, di sisi lain alokasi dana dari pemerintah justru diberikan pada sekolah yang hendak menerapkan standar internasional karena dianggap menaikkan pamor Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Ia mengilustrasikan, di Jakarta untuk masuk ke SMP Negeri yang standar diperlukan sekitar 1 juta dan dipungut setelah satu bulan masuk. Tapi di Yogyakarta, biayanya telah ditentukan secara sepihak oleh sekolah dan harus dibayar ketika dinyatakan lolos tes. Mau tidak mau, orang yang tidak punya uang harus tersingkir. “Dibandingkan dengan Jakarta, di sini lebih kejam,” tuturnya.

 

Kebijakan Pendidikan di Yogyakarta

            Ditemui di ruang kerjanya, Bambang Irianto, Kepala Sie. Data dan Teknologi Informasi (TI) Dinas Pendidikan Provinsi DIY menjelaskan, kebijakan pendidikan di Yogyakarta tidak terlepas dari kebijakan pendidikan di tingkat pusat. Kebijakan pendidikan yang diterapkan pemerintah daerah pasca Otonomi Daerah, berupaya memeratakan kualitas pendidikan dan meningkatkan daya saing. Dalam rangka pemerataan pendidikan, pemerintah menyediakan beasiswa. “Minimal, anak usia SD-SMP bisa sekolah dalam rangka wajib belajar,” tuturnya kepada Flamma. Ia menambahkan, saat ini, melalui program dana kompensasi BBM untuk pendidikan di DIY diusulkan mencapai 118, 7 milyar yang rencananya dicairkan mulai Agustus 2005.

Darno, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Yogyakarta, menengarai, pasca Otonomi Daerah, banyak daerah-daerah yang memproklamirkan diri sebagai kota pendidikan terutama di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Di level perguruan tinggi, banyak yang mulai membuka perguruan tinggi dan lebih murah. “Kalau kita tidak bekerja keras dan semaksimal mungkin, kita akan tersaingi dan label kota pendidikan akan tinggal kenangan,” ujarnya.

Guna mendukung ide peningkatan kualitas pendidikan, juga digagas konsep smart school untuk membuat sekolah yang cerdas dengan TI yakni information technology atau teknologi informasi dan komputer sebagai penunjangnya. Dengan TI, para guru juga dapat mengembangkan sistem pembelajaran mutakhir dan diharapkan menemukan sistem pembelajaran baru. Jadi, tidak hanya sebagai alat informasi semata. Bambang menambahkan, program ini juga akan dibantu dana dari APBD. Ia yakin, dengan smart school, program TI dan e-library, daya saing Yogyakarta akan meningkat dan membuat sekolah di Yogyakarta lebih maju.

            Adapun biaya untuk membangun pendidikan di Yogyakarta berbasis TI, yaitu pengembangan sistem jaringan internet di sekolah, Gubernur DIY, Sultan Hamengkubuwono X mengatakan, akan mengajukan pinjaman ke Jepang sebesar 1,4 triliun. Menurut dia, angka 150 juta dollar AS (Rp. 1,4 triliun) hanya target, sedangkan realisasinya bisa jadi hanya sepertiganya. Pinjaman untuk proyek TI juga dilakukan secara bertahap dalam lima tahun, dan pembebanannya melalui sharing antara provinsi dan kabupaten/kota. (Kompas Jogja, 22/8)

            Selain TI tadi, Bambang Irianto menyatakan bahwa Yogyakarta tidak hanya memiliki potensi di bidang pendidikan, tapi juga sektor pariwisata. Baginya, keduanya harus berjalan berbarengan. Untuk mempertemukan keduanya, dicetuskan ide wisata pendidikan. Modelnya, dunia pendidikan membuka diri untuk mengakses rencana-rencana di dunia pariwisata. Lalu beberapa sekolah yang, misalnya, dengan lab school-nya punya kepariwisataan. Dunia pendidikan juga punya andil memasarkan pariwisata. Begitu juga sebaliknya, dunia pariwisata bisa menunjukkan sekolah-sekolah yang unggul di Yogyakarta.

            Guna menunjang sektor pariwisata dan pendidikan, Darno mengatakan saat ini Walikota Yogyakarta sedang menghimbau agar di mal dikembangkan electronic library. Modelnya sederhana, di sudut mal ada komputer yang dapat dipakai masyarakat untuk mengakses informasi. Ikhtiar ini tentu tidak terlepas dari upaya mengawinkan pariwisata belanja dengan pendidikan.

            Upaya memadukan unsur pariwisata dan pendidikan begitu nampak dalam pembangunan Taman Pintar yang letaknya berdampingan dengan Benteng Vrendburgh dan Taman Budaya serta patung Ki Hajar Dewantara yang berada di perempatan Jalan Jend. Sudirman, di depan Gramedia.

 

 

Proyek Pembangunan Taman Pintar

 

Konsep:

-Ilmu pengetahuan mudah dan menyenangkan bagi siswa.

-satu kesatuan dengan Benteng Vrendburgh dan Taman Budaya

Pendanaan:

-Kebutuhan                        : Rp. 50,75 Milyar

-Sumber                              : a. APBD Kota Rp. 15,5 M

                                                  b. APBD Provinsi Rp. 8 M

                                                  c. APBN Rp. 19,3 M

                                                  d. Swasta Rp. 7,8 M

-Realisasi pendanaan     : hingga 2005 dari APBD Kota 14,55 M, APBN Rp. 3 M dan Swasta                                              Rp. 212 Juta

-Kekurangan 2005, direncanakan dipenuhi dari APBD Rp. 894 juta, APBD Provinsi Rp. 4 M,     APBN Rp. 10,8 M dan Swasta Rp. 3,2 M.

-Tahun 2006 usulan ke APBN Rp. 6,5 M.

 

Sumber: Bappeda Kota Yogyakarta.

 

Praktik yang Tidak Jelas

Mengomentari misi pendidikan di Yogyakarta, Darmaningtyas membenarkan jika tidak bisa lepas dari kebijakan pendidikan di tingkat nasional, “hanya saja kalau kita lihat praktiknya di Yogyakarta serba tidak jelas, memihak orang miskin tidak, menuju pencapaian kualitas juga tidak,” cetus pria yang aktif menulis artikel tentang  pendidikan di media massa.

Munculnya ketidakseimbangan kualitas antar sekolah di Yogyakarta, juga merupakan bukti adanya kecenderungan untuk keluar dari misi pendidikan di DIY. Kualitas pendidikan anak-anak tidak berarti penyeragaman, “tetapi bagaimana setiap anak terlayani sesuai kemampuannya. Ini yang disebut peningkatan kualitas,” tukas St. Kartono, Guru SMA Kollese De Britto.

Terkait pemberian beasiswa sebagai upaya mengatasi kesenjangan sekolah, Murwati Widiani, guru yang pernah menyabet anugerah Guru Berprestasi Tingkat Nasional I tahun 2002, melihat hal itu belum cukup mengatasi persoalan di lapangan karena bantuan tersebut terkadang tidak merata. Ia juga menjelaskan, sebetulnya Yogyakarta memiliki banyak modal untuk menjalankan visi-misi Yogyakarta, terutama dengan lebih memperhatikan sumber daya manusianya.

Selain persoalan kualitas, yang tidak kalah penting adalah perlunya kesadaran bahwa pendidikan merupakan hak masyarakat dan menjadi kewajiban negara. Menurut Basuki AR, Ketua Komisi E DPRD DIY, perlu diusulkan adanya perda pendidikan yang dapat menjamin semua orang bersekolah, terutama warga kurang mampu. “Jangan lihat orang tuanya yang miskin, tapi mana perlindungan negara kepada  orang miskin,” tuturnya.

Darmaningtyas menambahkan, menyusutnya jumlah mahasiswa luar Yogyakarta yang datang ke Yogyakarta, mahalnya biaya pendidikan, dan menurunnya kualitas secara kumulatif dibandingkan dengan kota-kota lain merupakan hal yang harus dijawab dan tidak cukup dengan membangun patung atau taman. “Mestinya dijawab dengan membangun ruang-ruang belajar dan menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar,” tuturnya.

Dalam pandangan Murwati Widiani, Guru SMA Muhammadiyah Pakem, taman pintar maupun patung Ki Hajar Dewantara hanya bersifat monumental dan seremonial. Menurutnya, hal seperti itu tidak perlu ditonjolkan dan hanya menjadi proyek saja. “Saat ini, peran pemerintah dalam upaya memajukan Yogyakarta sebagai kota pendidikan belum menonjol,” tukasnya.

Dari catatan Flamma, seiring bertambahnya jumlah mal di Yogyakarta sejak tahun 2004, dari 2 mal pada tahun 2003 menjadi sekitar 8 mal pada tahun 2004, beberapa program studi di beberapa perguruan tinggi justru terancam gulung tikar karena kekuarangan mahasiswa. Sugiyanto, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta DIY, mengatakan, diperkirakan jumlah PTS yang mendapatkan mahasiswa baru kurang dari 100 mahasiswa pada tahun 2005/2006 kian bertambah, “jika tahun sebelumnya mencapai 25%, tahun ini diperkirakan melonjak mencapai 50%,” tuturnya. (Kompas Jogja, 28/7)

 

Jurusan Perguruan Tinggi di DIY yang Kekurangan Mahasiswa

UNY

Universitas

Jurusan

Keterangan

UST

Pendidikan luar sekolah

Status jurusan non-aktif sejak 1995

UPN

Ilmu tanah

Tahun 2003 peminat 33 orang dengan daya tampung 50 orang

Seni tari

2003 peminat sekitar 20 orang dengan daya tampung 50 orang

STPMD

Pembangunan masyarakat desa

2003 diusulkan ditutup karena kekurangan peminat

ISI

Fotografi

2004 peminat sekitar 24 orang

ISI

Karawitan

2004 peminat sekitar 9 orang

ISI

Seni tari

2004 jumlah mahasiswa kurang dari daya tampung jurusan

Sumber: informasi dari beberapa universitas di DIY dan Kompas Jogja

 

Trend turunnya jumlah mahasiswa dan melonjaknya mal, memperlihatkan betapa menguatnya kebijakan pemerintah dalam pembangunan fisik seperti pusat perbelanjaan maupun hiburan daripada mempertahankan atau melindungi infrastruktur pendidikan dan mengarusutamakan pendidikan dalam kebijakan pemerintahan. Darmaningtyas menjelaskan, ini bermula dari asumsi bahwa pembangunan fisik yang baik akan menjadi daya tarik orang untuk datang ke Yogyakarta. Ia mencontohkan, kalau yang ditawarkan Yogyakarta adalah mal, orang dari Jakarta atau Surabaya tidak akan datang ke Yogyakarta karena mal mereka jauh lebih bagus. Bagi dia, mal berlawanan dengan semangat pendidikan dan justru menawarkan gaya hidup yang hedonis-konsumeris.

Mengomentari rencana penggunaan TI dalam bidang pendidikan, Sekretaris Dewan Pendidikan Provinsi DIY, Aulia Reza Bastian, menilai, hal itu akan mendukung Yogyakarta sebagai kota pendidikan. “Saya jamin, kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi jika tidak didukung TI hanyalah isapan jempol,” ucapnya.

Sebaliknya, Darmaningtyas yang juga anggota dewan penasehat Center for the Betterment of Education menyatakan, hal itu adalah mimpi dan kontradiktif. Artinya, kekayaan Yogyakarta adalah budaya, mestinya pendidikan berbasis budaya yang dikembangkan. Kalau TI, Yogyakarta sulit bersaing dengan India maupun Cina dan kehilangan ciri khasnya. Ditambahkannya, jika berbasis TI hanya sekolah mapan dan memiliki fasilitas saja yang bisa mengakses, sedangkan  sekolah-sekolah yang di bawah semakin jauh tertinggal. “Sekolah di desa mungkin hanya menjadi pendengar, karena mengerti saja belum tentu,” tukasnya.

Murwati menambahkan, pendidikan berbasis TI yang digagas untuk pendidikan di Yogyakarta adalah sah-sah saja. Namun demikian, ia melihat hal itu belum menyelesaikan persoalan pendidikan di pedesaan seperti mendorong anak untuk belajar dan mengikusertakan orang tua dalam proses pembelajaran.

            Sedangkan St. Kartono menyayangkan kebijakan TI yang dianggap hanya mengabdi pada segelintir kelompok dan menjadi proyek mercusuar. Pria yang aktif menulis soal pendidikan ini juga menilai kebijakan tersebut kurang partisipatif karena lebih banyak dari atas ke bawah. “Setiap kebijakan harus melibatkan kepala sekolah dan guru yang ada di lapangan dan langsung berhadapan dengan murid,” ujarnya.

            Menanggapi sisi pembiayaan pendidikan berbasis TI, ekonom Pusat Studi Ekonomi dan Pancasila (PUSTEP) UGM, Edy Suandi Hamid menilai, kebijakan pemprov yang akan mengajukan pinjaman ke Japan Bank for International Corporation (JBIC) ujung-ujungnya akan memberatkan masyarakat yang harus menanggung pengembalian utang. Menurutnya, jumlah pinjaman itu melebihi potensi Daerah Istimewa Yogyakarta. “Untuk mencicil utang,” lanjut Edy, “pemprov kemungkinan akan memperbesar pendapatan asli daerah (PAD),” tuturnya. (Kompas Jogja, 22/8)

           

Membangun Mal Vs. Infrastruktur Sekolah

Bambang menjelaskan, di masa mendatang, upaya yang dilakukan pemerintah DIY untuk memantapkan dunia pendidikan yang adil, partisipatif dan terjangkau adalah dengan memberikan bantuan kepada sekolah baik swasta atau negeri. Dalam rangka menumbuhkan partisipasi, masyarakat yang mampu akan dihimbau untuk memberikan beasiswa sedangkan siswa yang tidak mampu diperbolehkan tidak membayar. Selain itu, dengan bantuan TI semua sekolah akan mendapat bantuan yang sama sampai ke pelosok desa. “Agar mereka mempunyai informasi yang sama antara sekolah yang di desa dan di kota,” cetusnya.

Berbeda dengan Darmaningtyas. Bagi dia, Yogyakarta saat ini masih bangga memanggul simbol sebagai kota pendidikan. Tapi di sisi lain, tidak ada infrastruktur fisik maupun sosial yang bisa menopang terjaganya status tersebut, yang dibangun justru infrastruktur yang berlawanan dengan visi-misi sebagai kota pendidikan.

Dalam pengamatan Flamma, sejak tahun 2000, pusat perbelanjaan maupun kafe justru tumbuh subur. Sedangkan institusi pendidikan semacam perpustakaan maupun museum tampak kurang diperhatikan. Perpustakaan Yayasan Hatta, misalnya. Gedung tua yang terletak di Jalan Adisutjipto itu, wajahnya tampak suram tak terawat dengan papan nama yang kusam. Bertolak belakang dengan bangunan mal Saphir yang tengah dibangun dan nampak mewah.

Menurut Darmaningtyas, pembangunan taman pintar atau patung Ki Hajar Dewantara hanya sekedar menghibur diri dan tidak menjawab persoalan yang terjadi sebenarnya. “Dengan begitu, seolah-olah Yogyakarta masih eksis sebagai kota pendidikan,” tandasnya. Ia optimis, jika pengambil kebijakan menyadari adanya degradasi kuantitas maupun kualitas dan melakukan perubahan yang lebih baik, maka Yogyakarta masih akan menjadi tujuan orang belajar.

Sebaliknya, jika terninanbobokkan dengan sebutan-sebutan yang ada dan melangkah berdasarkan keyakinan sendiri, hal itu bisa menghancurkan realitas empiris yang selama ini dibangun. ”Orang makin lama akan sedikit yang datang ke Yogyakarta karena sudah tidak kondusif dan tidak ada yang menarik untuk dipelajari,” ujar Tyas, panggilan akrabnya.

            Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta bisa melakukan dua sisi, secara fisik dan sosial. Secara fisik, segera menghentikan, minimal membatasi, pembangunan mal atau tempat yang tidak menciptakan kondisi belajar yang kondusif. Secara sosial dan budaya, pendidikan harus dikembalikan untuk pengembangan budaya. Lalu, secara sosial kemasyarakatan menjamin adanya kondisi bagi setiap orang agar bisa belajar mengenai toleransi, solidaritas sosial maupun pluralisme.

Bagi Kartono, masyarakat akan kecele jika misi pendidikan di Yogyakarta hanya sebatas penyediaan fasilitas, dengan seperangkat iptek dan proyek mercusuar. “Kalau mau menjadi kota pendidikan, yang harus dihidupkan adalah semangatnya. Misalnya menyediakan sekolah yang dikenal bukan karena fasilitas yang hebat, tetapi karena pendampingan pribadi terhadap setiap murid,” usulnya.

Selain itu, Yogyakarta harus mampu menjadi tumpuan masyarakat bawah dalam upaya memperbaiki kehidupan. Murwati berkisah, dulu, orang tuanya yang hanya pegawai rendahan di Purwokerto, mampu menyekolahkannya di UGM. Namun sekarang, dengan kondisinya yang ia anggap lebih baik, merasa gamang, apakah mampu menyekolahkan anaknya sampai jenjang perguruan tinggi di Yogyakarta dengan biaya yang dirasa semakin sulit dijangkau.

            Agar citra Yogyakarta sebagai kota pendidikan tidak pudar, diperlukan adanya keseriusan untuk mempertegas orientasi pendidikan sebagai kebijakan dan paradigma pemerintahan. Revitalisasi infrastruktur pendidikan seperti perpustakaan maupun sarana-sarana publik yang memudahkan kegiatan-kegiatan bernilai edukasi tampaknya tidak bisa ditawar-tawar lagi. 

Patut direnungkan pernyataan Djoko Suryo, sejarawan UGM. Menurutnya, banyaknya mal dan kegiatan perdagangan telah mengganggu dan melunturkan ikon, ciri dan suasana Yogyakarta sebagai kota pendidikan, paling tidak dari segi fisik. “Jika ditambah dengan menurunnya jumlah mahasiswa yang datang ke Yogyakarta, maka telah mengancam keberadaan Yogyakarta sebagai kota pendidikan,” ujarnya. [M. Zainal Anwar]

[ Flamma Edisi 24 index ]

 

 

 Cari

Web IRE

 

 


 

Silahkan mengutip, mempublikasikan atau memperbanyak tulisan dengan mencantumkan copyright IRE

 

 

©2001- Institute for Research and Empowerment (IRE)
Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 9.5 Dusun Tegalrejo Rt 01/RW 09, Desa Sariharjo Kec. Ngaglik Sleman Yogyakarta 55581 Telp 0274-867686, 7482091
Email: office@ireyogya.org - http://www.ireyogya.org - http://groups.yahoo.com/group/ireyogya