Bahasa | English

berpikir kritis, bertindak taktis untuk demokrasi...

 Jogjakarta :

 

PERSPEKTIF DIREKTUR

Kampanye Politisi Bersih dan Progresif



 Capacity Building

Sekolah Politik

Pelatihan DPRD

Sekolah Demokrasi

Kursus Keadilan Sosial

 

 

 

 

F L A M M A


 

Wawancara:

 

Bambang Purwanto:

“Kalau kita ngomong keistimewaan kita nggak usah ngomong demokrasi.”

 

Bambang Purwanto termasuk intelektual yang memilih bersikap kritis terhadap wacana Keistimewaan DIY. Sejak digulirkannya Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta, Guru Besar Ilmu Sejarah UGM ini tak lelah mengingatkan publik betapa status keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta rentan dibajak oleh kepentingan elit untuk berkuasa. Secara kultural, menurut Bambang, Kraton berikut budaya Jawanya patut dilestariakan dan dijadikan referensi nilai. “Tapi problemnya sama dengan Islam, begitu dicampur dengan politik. Karena politik itu ambisi, bukan hanya sekadar mengatur,” tutur Pembantu Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM ini kepada FLAMMA. Berikut cuplikan wawancaranya.

 

Menurut Bapak apa substansi keistimewaan?

Keistimewaan itu sebenarnya cukup keistimewaan kultural saja, tidak usah keistimewaan politik. Politik itu namanya Indonesia. Kalau kita sudah ngomong dalam pengertian kultural, itu yang kita pahami adalah bagaimana sistem nilai, kultur yang ada dalam masyarakat ini mempengaruhi dinamika yang ada di masyarakat. Tapi bukan dikaitkan secara langsung dengan kekuasaan itu sendiri.

 

Namun sejumlah kalangan khawatir jika gubernurnya dan wakilnya bukan dari Kraton maka kelestaruian nilai-nilai keistimewaan budaya DIY tadi tidak akan  terjaga?

Ya, itu sama saja dulu orang ngomong tidak ada orang selain Pak Harto yang bisa jadi presiden. Kalau saya masalahnya sekarang ini sebenarnya lebih pada hati nurani.

 

Hati nurani siapa?

Ya mereka yang merasa dirinya berkuasa itu. Apa betul saya itu berambisi politik atau tidak, itu jangan mulut saja, ‘Oh, saya tidak berambisi politik.’ Tapi walaupun ngomong tidak berambisi politik, dalam kelakuannya menunjukkan bahasanya ‘syahwat politik’ yang tinggi. Coba kalau berani, ‘Saya tidak akan ikut dalam pemilihan gubernur. Saya cukup akan merawat Kraton. Tunjukkan itu sebagai kearifan seorang Raja, sebagai seorang Adipati.

 

Artinya menunggu rakyat berdemo menuntut mereka menjadi gubernur dan wagub, baru kemudian mencalonkan diri?

Walaupun rakyat menuntut begitu. Kalau rakyat menuntut dan sebagainya itu bisa direkayasa. Itu mudah sekali. Apalagi dalam kondisi masyarakat seperti ini. Wong urusan sayur lodeh saja kemarin sudah menunjukkan hal itu. Tapi coba praktikan, berikan contoh kepada masyarakat.

 

Dulu HB IX kita kenal kearifannya dengan semboyan “tahta untuk rakyat”. Kalau sekarang bagaimana?

Kalau kita lihat HB IX ini, kita tidak punya banyak ya orang-orang seperti ini. Pertama, dia ingin menunjukkan bahwa rakyat memegang keputusan. Yang kedua, bukan hanya persoalan memegang keputusan, tetapi kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Lalu kalau Sultan ini mau mengatakan dengan status keistimewaanya, bahwa tanah ini Anda tidak punya hak untuk punya hak milik, itu saya kira dia bisa katakan. Ini yang sekarang sudah menjadi perdebatan kita tentang Sultan Ground, dsb. Dan nantinya kebijakan pertanahan ini sangat penting yang dilakukan oleh HB IX untuk memberikan akses tanah kepada masyarakat. Saya kira itu jelas menunjukkan bahwa, ‘tahta saya ya bukan untuk saya tapi untuk rakyat saya’.

 

Kalau melihat perbandingan kedudukan Keraton Solo dan Yogya, sepertinya keistimewaan identik dengan sosok HB IX tadi?

Saya kira lebih dulu itu karena kemampuan (HB IX—red). Saya punya keyakinan mengapa dulu secara formal keistimewaan itu diberikan lebih karena peran HB IX. Tetapi kalau yang namanya HB IX waktu itu tidak melakukan seperti yang dilakukan HB IX waktu itu, saya tidak yakin juga Jogja akan menjadi daerah istimewa. Nasibnya sama dengan Solo.

 

Jika melihat RUUK, bisa nggak dikatakan sebagai wujud kepentingan meneguhkan elit.

Ya saya kira memang akan ke sana. Tapi ya  nggak usah ngomong demokrasi. Itu dua hal yang berbeda. Kalau kita ngomong keistimewaan kita nggak usah ngomong demokrasi. Terlalu jauh. Jadi orang yang tetap punya hak atas DIY. Udahlah, lupakan sajalah.

Tapi kalau maunya Keisitmewaan Yogyakarta begitu, diakui saja. Nggak usah malu-malu, ‘Keistimewaan Yogyakarta adalah hak elit Keraton dan Kadipaten untuk berkuasa atas gubernur dan wakil gubernur’. Ya, itu saja, nyatakan dengan terang. Nggak usah  kemudian mengatakan ‘saya nggak mau jadi gubernur atau nggak mau jadi wakil gubernur. Ya kalau memang mau hak itu ya sebutkan. Apakah mau demokratis atau tidak, wallahualam. Saya ndak tahu.

 

Kalau menurut bapak, keistimewaan ini apa perlu dibingkai dengan RUUK?

Kalau menurut saya ndak usah.

 

Bisa tidak RUUK ini dipandang sebagai upaya refeodalisasi?

Saya kira harus hati-hati juga. Saya ndak tahu.

 

Tapi apa sebenarnya batasan makna refeodalisasi itu?

Ya, mengembalikan kekuasaan para feodal itu. Saya kira itu refeodalisasi, ketika kita berbicara pada level politik. Kalau politik tentu saja kita bicara tentang otoritas, tentang kekuasaan. Jadi kalau kekuasaan para feodal ini dikembalikan, atau semakin diperkuat, ya ini refeodalisasi.

Saya pikir, saya nggak tahu apa yang ada di kepala teman-teman yang menyusun itu. Tapi kesan saya, sudahlah. Kalau ngomong UU Keistimewaan itu nggak usah ngomong demokrasi. Hentikan sajalah.

 

Sebenarnya, menurut Anda apa manfaat keistimewaan DIY bagi masyarakat?

Tergantung dari masyarakatnya. Menurut saya orang harus tahu bahwa Jogja ini sebagai sistem sosial, bukan lagi Jogja seratus tahun yang lalu. Bukan lagi Jogja 50 tahun yang lalu. Sekarang isunya kan menjadi macam-macam. Saya sudah tinggal di Jogja selama 20 tahun, nggak pernah dianggap. Akhirnya kalau udah ngomong gitu udah dicap sudah bukan orang Jogja. Saya kan tidak lahir di Jogja. Saya secara etnisitas, secara genetik bukan orang Jawa, bukan orang Jogja. Jadi sebenarnya yang dimaksudkan Jogja itu apa. Kalau Jogja itu sebuah lokalitas harusnya saya orang Jogja. Tapi kalau kemudian Jogja itu genetik ya itu yang repot.

 

Sekarang arus demokratisasi lokal sedemikian deras. Ke depan ada pilkada langsung. Kasultanan dan Paku Alaman mesti bagaimana?

Dia boleh mencalonkan diri jadi gubernur. Sebagai pribadi dia punya hak.Tapi begitu ia menjadi gubernur dia harus berhenti sebagai Sultan. Itu harus dilakukan. Cari Sultan yang baru. Itu kalau ngomong demokrasi. Jadi kalau mau buat RUUK ya masukkan unsur-unsur seperti itu. Jangan bikin yang berkaitan dengan kekuasaan politis, tetapi RUUK dalam pengertian kultural. Jangan bicara posisi siapa jadi gubernur, siapa jadi wakil gubernur. Karena satu jabatan kultural dan satunya politis. Jadi jangan dicampuraduk.

 

Apa resikonya kalau ada dualisme corak kepemimpinan politis dan kultural?

Kalau itu dicampuraduk sekarang, siapa sih yang berani. Wong orang mau mengkritik Sultan aja takut kualat. Itu kan kultural. Padahal secara politik suatu saat bisa salah. Tapi ndak ada yang berani karena takut kulturalnya. Percaya, iya kalau kita Sultannya baik, Adipatinya baik. Kalau suatu waktu Sultan dan Adipati yang nggak bagus, apa jadinya?

            Jadi, saya kira kesulitannya kalau ini terus dipertahankan, itu akan repot. Resikonya seperti kasus Solo. Coba Anda bayangkan kalau Solo itu daerah istimewa seperti DIY. Dan itu pelan atau cepat akan terjadi di Jogja. Solo kebetulan tidak ada konsekuensi politis dalam pengertian ke-Indonesiaan, karena dia tidak jadi gubernur atau walikota. Jadi dia hanya pada level kultural saja dan level keluarga. Jadi tidak ada konsekuensi.

 

Bagaimana dengan ide pemilihan langsung dengan calon dari dua kerajaan. Untuk gubernur dipilih dari para kerabat Kasultanan dan wagub dari keluarga Paku Alaman?

Itu bohong-bohongan itu. Mana ada yang berani pada Sinuwunnya, ya nggak berani! Misalnya Anda ingin membuat demokrasi di dalam rumah. Masak Anda sebagai anak mencalonkan diri sebagai kepala keluarga? Ya ndak berani tho Mas. Itu bohong-bohongan dan ngabisin duit saja. Saya kira orang hanya ngomong tentang demokrasi tapi berkelakuan tidak demokratis.

 

Apa pernyataan terakhir Anda mengenai Keistimewaan DIY?

Saya kira dalam hal ini saya berbeda dengan teman-teman yang lain. Tapi orang sering salah memahami, bahwa seolah-olah yang saya katakan itu ingin menghancurkan. Ya nggak. Wong Jawa itu punya kearifan kok. Sebagai kultur, saya kira (Jawa—red) merupakan salah satu kultur besar yang harus kita pahami, lestarikan dan kita gunakan sebagai referensi. Tapi problemnya sama dengan Islam, begitu dicampur dengan politik. Karena politik itu ambisi bukan hanya sekadar mengatur.

[ Flamma Edisi 23 index ]

 

 

 Cari

Web IRE

 

 


 

Silahkan mengutip, mempublikasikan atau memperbanyak tulisan dengan mencantumkan copyright IRE

 

 

©2001- Institute for Research and Empowerment (IRE)
Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 9.5 Dusun Tegalrejo Rt 01/RW 09, Desa Sariharjo Kec. Ngaglik Sleman Yogyakarta 55581 Telp 0274-867686, 7482091
Email: office@ireyogya.org - http://www.ireyogya.org - http://groups.yahoo.com/group/ireyogya