Buletin Flamma
Sengkarut Penanggulangan
KemiskinanPenanggulangan
kemiskinan seolah menjadi
tema abadi pembangun-an ...
Jurnal Mandatory/Buku
Untuk melihat katalog buku
IRE Yogyakarta
selengkapnya, silahkan
mengklik link ini :
http://katalog....
JOGLO WINASIS, Sebuah Sanggar Pengetahuan
“Kami atas nama Pemda Kabupaten Sleman mengucapkan selamat atas berdirinya Sanggar Pengetahuan Joglo Winasis. Semoga di tempat ini juga akan banyak lahir kebijakan-kebijakan yang lebih pro rakyat,”—Hj. Yuni Satia Rahayu, S.S, M.Hum, Wakil Bupati Sleman.
IRE Yogyakarta makin meneguhkan komitmen untuk memperkuat kemitraan dengan para pembuat kebijakan sebagai upaya untuk mempengaruhi kebijakan secara kritis. Tidak hanya melakukan riset dan advokasi, organisasi IRE juga mengupayakan adanya perubahan kebijakan pemerintah, baik di tingkat lokal maupun nasional tanpa kenal lelah. Capaian tersebut berkat adanya dukungan dari LSM-LSM lain dan komunitas akedemik Universitas Gadjah Mada, serta berbagai pihak yang peduli dengan perkembangan demokrasi. Demikian narasi kunci sambutan Arie Sujito, Direktur Eksekutif IRE, dalam acara Launching Sanggar Pengetahuan Joglo Winasis, Jum’at petang, 29 Juli 2011, di Dusun Tegalrejo, Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.
Arie juga memaparkan bahwa Joglo Winasis dirancang sebagai tempat belajar bersama untuk menimba pengetahuan dan engagement pemerintah daerah, akademisi, para aktivis, dan pihak swasta untuk membedah kebijakan, mempengaruhi proses-proses yang berlangsung baik di daerah maupun di tingkat nasional. Joglo Winasis tidak hanya menjadi tempat berdiskusi para pegiat LSM, tetapi warga desa bisa memanfaatkannya sebagai tempat rembug desa atau forum warga. “Joglo ini didesain secara terbuka, tidak hanya dalam arti fisik tapi juga substantif,” papar Arie.
Joglo Winasis yang dibangun atas dukungan The Asia Foundation (TAF), lembaga internasional yang punya kepedulian dalam memproduksi pengetahuan, menurut Arie akan diperuntukkan tidak hanya untuk kepentingan IRE semata tetapi juga untuk kepentingan masyarakat umum. Karena itu, dia menegaskan bahwa IRE membuka kerjasama bagi para akademisi, jaringan LSM, media, dan partai politik. “Ke depan kita akan saling mengikat diri, bersenyawa untuk memanfaatkan Joglo Winasis sebagai tempat belajar secara inklusif guna mengembangkan kapasitas berpengetahuan kita,” harap sosiolog muda itu.
Sementara itu, Dr. Bambang Hudayana, MA yang bertindak mewakili Yayasan IRE-Flamma, dalam sambutannya mengatakan bahwa kekayaan IRE bukanlah harta benda akan tetapi solidaritas sosial yang telah membuat IRE tumbuh mekar hingga memiliki gedung yang mencukupi. Hal ini akan semakin bermakna indah ketika Joglo Winasis dimanfaatkan secara bersama-sama guna menggalang silaturahmi dan memperkaya wawasan untuk memberdayakan masyarakat. “Itulah panggilan IRE dan panggilan yayasan,” tandas antropolog senior itu.
***
Sanggar Pengetahuan yang berbentuk rumah joglo dan limasan tersebut diresmikian oleh Wakil Bupati Sleman, Hj. Yuni Satia Rahayu, S.S, M.Hum. Dalam sambutannya, Yuni berharap bahwa nantinya sanggar pengetahuan itu akan benar-benar bermanfaat untuk semua pihak, dan akan menghasilan masukan-masukan untuk Pemda dan kemajuan Kabupaten Sleman. “Semoga joglo winasis bisa bermanfaat untuk kita semua. Karena IRE ada di Sleman, lokasinya dekat, maka Kabupaten Sleman harap diperhatikan. Pak Camat Ngaglik nanti juga bisa meminta pendapat dari IRE jika ada masalah kebijakan yang ada di kecamatan, maka langsung aja ketemu Mas Arie,” seloroh Yuni sambil menjelaskan bahwa Pemda Sleman saat ini sudah menandatangani MOU kerjasama dengan IRE untuk mengadakan serial diskusi kebijakan. Mengakhiri sambutannya, birokrat yang dekat dengan kalangan NGO itu berharap bahwa semoga akan semakin banyak NGO yang turut berperan dalam program-program Pemda Sleman. “Kami sangat terbuka untuk bekerjasama dengan NGO,” pungkasnya.
***
Prosesi Peluncuran Sanggar Pengetahuan “Joglo Winiasis” dibagi menjadi dua sesi. Pertama, kenduri tasyakuran yang dihadiri oleh sekitar 50 warga Dusun Tegalrejo dan staf IRE, yang dilaksanakan pada sore hari pukul 17:00-17:30 WIB. Sementara sesi kedua, yang dimulai setelah waktu Magrib (18:30), dibuka dengan pemutaran video tentang profil organisasi IRE dan penayangan slide-show foto-foto yang merekam perjalanan sejarah IRE sejak 1994, dilanjutkan dengan beberapa sambutan dan proses peresmian yang ditandai dengan pemukulan kentongan. Penayangan slide-show tersebut dilengkapi dengan penjelasan secukupnya oleh Sunaji Zamroni, peneliti IRE yang berperan sebagai MC, untuk memberikan gambaran umum tentang kegiatan atau peristiwa yang telah mewarnai sejarah IRE.
Diantara para undangan yang hadir, tercatat ada Arif Noor Hartanto, SIP, atau yang akrab disapa Mas Inung (DPRD-DIY), Camat Ngaglik, Lurah Sariharjo, Ketua RT dan Ketua RW Desa Tegalrejo, Pak Meth Kusumahadi (aktivis senior NGO), perwakilan dari Media, Perguruan Tinggi, Pers Mahasiswa, dan mitra-mitra IRE lainnya.
Acara yang dikemas secara kultural itu akhirnya ditutup dengan pertunjukan wayang kulit kontemporer durasi 3 jam, dengan dalang Dr. Bayu Wahyono, Pengamat Sastra dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Sg. Yulianto
Dipublikasikan › 05-09-2011 | Dilihat › 366 kali



Berita Lainnya