Beranda | Kontak Kami | Indonesia - English
Buletin Flamma
Sengkarut Penanggulangan KemiskinanPenanggulangan kemiskinan seolah menjadi tema abadi pembangun-an ...
Jurnal Mandatory/Buku
Untuk melihat katalog buku IRE Yogyakarta selengkapnya, silahkan mengklik link ini : http://katalog....
Free PageRank Checker
KETAHANAN PANGAN TIDAK SEKEDAR KENYANG
Mendengar kata Gunungkidul, dalam pikiran seseorang tentu langsung tergambar daerah terpencil, terbelakang, kering, tandus, kesulitan air, rawan pangan, dan predikat-predikat lainnya yang identik dengan daerah miskin. Gunungkidul memang senantiasa identik dengan kemiskinan. Bahkan tahun 2005 Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal menetapkan Gunungkidul sebagai salah satu dari 199 daerah tertinggal di Indonesia. Sebagai bagian dari Provinsi D.I. Yogyakarta, jumlah  penduduk Gunungkidul terbanyak ke-3 setelah Sleman dan Bantul, namun jumlah penduduk miskinnya selalu yang terbanyak. Persentasenya mencapai 30,32 persen tahun 2007 dan 28,50 persen tahun 2008. 

Salah satu bentuk kemiskinan di kabupaten ini ditandai dengan banyaknya desa rawan pangan di mana tahun 2007 mencapai 99 desa dari 144 desa di 18 kecamatan. Kondisi ini selaras dengan masih banyaknya desa yang tergolong rawan air bersih  (74 desa). Kondisi geografis yang sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan kawasan karst menjadi penyebab krisis air dan pangan.

Pemerintah Gunungkidul mencoba melakukan berbagai inovasi untuk memecahkan persoalan ini. Hasilnya,  tahun 2008  Bupati Gunungkidul atas nama masyarakat  menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia atas keberhasilannya meningkatkan produktivitas padi lahan kering dan ketahanan pangan. Para petani dinilai berhasil mengolah lahan kering sehingga produktivitas padi gogo bisa mencapai rata-rata 4,3 ton per hektar, padahal produktivitas rata-rata nasional hanya 2,3 ton per hektar. Sebagai daerah yang selama ini dikenal kering, Gunungkidul ternyata berhasil Surplus Beras 100.000 ton pada 2008 dan 125.000 ton pada 2009. Keberhasilan ini tentu memunculkan beberapa pertanyaan: apa bentuk inovasinya, sejauhmana menjawab akar permasalahan rawan pangan, dan apa yang dibutuhkan ke depan untuk pengembangan?
 
Ditulis oleh Krisdyatmiko
Deputy Direktur Program IRE Yogyakarta
(krisdyatmiko@ireyogya.org)
 
Untuk mendapatkan paper lengkap silahkan mendownload 
KETAHANAN PANGAN TIDAK SEKEDAR KENYANG
Dipublikasikan › 29-12-2010 | Diunduh › 46 kali
Kembali Ke Atas Kembali Ke Atas

Komentar

DENRIS M BOLOY » 19-05-2011 11:32:49 :

sy lulusan STPMD Yogya, dan bekerja di kabupaten yahukimo daerah yang pernah mengalami krisis Pangan dan di kunjungi Presiden ta, 2007, melihat begitu banyak anggaran Negara yg di keluarkan buat masalah tersebut, tapi brjalan waktu krisis itu tetap ada karna tidak ada pola pendampingan yang sifatnya berkelanjutan, pengalaman wonosari yang mengalami surplus, menjadi catatan penting. (mengapa mereka bisa dan kita tidak) daerah Papua yang kaya akan sumberdaya alam tapi miskin dalam pengetahuan dan Tehnologi. sehingga upaya meningkatkat Ekonomi masyarakat yang mandiri hanya sebuah fatamorgana saja. karena ajang pengawasan yang di harapkan presiden seperti BPK dan KPK sepertinya tidak dapat berbuat apa-apa karena mungkin mereka baru belajar atau karena ...... sy baru mengerti ternyata di papua banyak GAYUS-GAYUS, yang lebih hebat. bernar kata orang yang miskin tetap miskin kaya bertambah kaya, yang lebih parah lagi yang miskin tidak dapat memakan renah-remah yang jatuh dari meja Tuannya karena di Habiskan Sendiri, akirnya saya berpikir Negara ini tidak membutuhkan orang pintar tapi orang yang bijaksana. pintar itu relatif...pintar pencuri, pintar korupsi...dan masi banyak pintar-pintar yang lain, salam buat Bpk Sutoro Eko beliau adalah Dosen sy dulu....Tk
   Nama ( harus diisi )
   Email ( tidak akan disebar-luaskan ) ( harus diisi )
   Website
      Kode Verifikasi ( harus diisi )