Beranda | Kontak Kami | Indonesia - English
Buletin Flamma
Sengkarut Penanggulangan KemiskinanPenanggulangan kemiskinan seolah menjadi tema abadi pembangun-an ...
Jurnal Mandatory/Buku
Untuk melihat katalog buku IRE Yogyakarta selengkapnya, silahkan mengklik link ini : http://katalog....
Free PageRank Checker
Mengambil Pelajaran Berharga dari Kesuksesan dan Kegagalan BUMDes

BUMDes, atau nama lain, sebenarnya bukan makhluk baru meskipun nomenklatur itu baru diperkenalkan oleh pemerintah dalam satu dekade terakhir. Dulu kita mengenal berbagai institusi sosial dan institusi keuangan mikro yang dibentuk pemerintah: BKD, BINMAS, KUPEDES, KIK, KCK, BUUD, KUD, UEDSP, LPD di Bali sejak 1985, maupun berbagai nama dana bergulir yang dikelola kelompok-kelompok masyarakat yang dibentuk oleh proyek-proyek sektoral kementerian seperti UPK dan Simpan Pinjam untuk Perempuan (SPP) dalam PNPM Mandiri Perdesaan. Sebut saja ini adalah LKM korporatis, atau Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang dibentuk oleh pemerintah. Berbagai LKM ini dibentuk oleh pemerintah karena komitmen pemerintah untuk menolong rakyat desa (termasuk kaum miskin) dari jeratan rentenir dan sekaligus membuka akses kredit bagi rakyat desa mengingat bank-bank komersial (baik BUMN maupun swasta) tidak pro poor.

Tidak semua institusi LKM itu mati, tetapi sebagian besar institusi LKM telah mati, telah menjadi dinosaurus. Tentu pemerintah tidak pernah jera. Pemerintah selalu membikin nomenklatur LKM yang baru seraya mengalirkan bantuan dana yang tidak kecil kepada LKM baru. Studi kami di Dompu, Bima, dan Lombok Barat, sebagian besar BUMDes bentukan Pemkab dan didukung Provinsi, yang bergerak di bidang LKM mengalami mati suri. Demikian juga di Kutai Kartanegara yang kaya raya, dimana proyek LKM melalui program Gerbang Dayaku, mewariskan kegagalan LKM sebagaimana ditunjukkan dengan kemacetan dana bergulir sebesar 78 milyar rupiah.

Sementara institusi dana bergulir yang sekarang masih berjalan secara massif adalah SPP PNPM Mandiri Perdesaan. Karena proyek masih berjalan, dana SPP terus bergulir menjadi besar dengan tingkat pengembalian pinjaman dari kelompok sebesar 92,7% pada tahun 2008 dan meningkat menjadi 94,00% pada tahun 2009. Menurut laporan PNPM Mandiri Perdesaan 2009, dana yang bergulir sebesar  Rp 1.247.881.145.008 dan kemudian meningkat menjadi Rp 2.399.196.471.301 pada tahun 2009. Banyak pihak bertanya, bagaimana nasib SPP kedepan ketika PNPM MP sudah berakhir? Mau dibawa kemana institusi SPP dan uang sebesar itu? Apakah institusi dan uang itu akan bernasib sama seperti institusi-institusi lain yang pernah dibentuk pemerintah? Ini adalah teka-teki serius yang sangat disadari oleh PNPM MP maupun oleh pemerintah.

 

Sutoro Eko

 

Untuk mendapatkan paper ini silahkan mendownload

Mengambil Pelajaran Berharga dari Kesuksesan dan Kegagalan BUMDes
Dipublikasikan › 06-07-2011 | Diunduh › 35 kali
Kembali Ke Atas Kembali Ke Atas

Komentar

fan » 20-09-2011 13:29:41 :

Seharusnya para pengelola PNPM, harus mulai mepersiapkan aturan yang lebih jelas untuk pengelolaan SPP kedepannya, bukan terus menyuntikan dana kepada lembaga yang ada dikecamatan, karena besarnya lembaga LKM bukan semata-mata karena modal yang dimilki, terutama maslah kepemilikan lembaga yang ada dikecamatan, apakah diserahkan kedesa masing masing atau bagaimana?
khaeri hermawan » 20-09-2011 13:26:43 :

Bagaimana dengan desa di NTB khususnya kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur dan kabupaten Sumbawa yang memiliki BUMDes LKM dan telah diatur oleh masing-masing Pemerintah Daerah yang arah pelayanannya seperti SPP PNPM. Dan kondisi yang ada di NTB sekarang, program SPP PNPM menjadi pesaing di desa yang memiliki BUMDes LKM.
Apa tidak sebaiknya dana bergulir tersebut disalurkan melalui BUMDes LKM di desa yang sudah baik pengelolaannya daripada membuat lembaga yang sama. Hal ini bisa menyebabkan berbenturan antara program PEMDA dan Pemerintah Pusat....
   Nama ( harus diisi )
   Email ( tidak akan disebar-luaskan ) ( harus diisi )
   Website
      Kode Verifikasi ( harus diisi )