Beranda | Kontak Kami | Indonesia - English
Tentang Kami
Buletin Flamma
Sengkarut Penanggulangan KemiskinanPenanggulangan kemiskinan seolah menjadi tema abadi pembangun-an ...
Jurnal Mandatory/Buku
Untuk melihat katalog buku IRE Yogyakarta selengkapnya, silahkan mengklik link ini : http://katalog....
Leaflet Buku TIFA
hibah penelitian
Free PageRank Checker
Sekilas IRE Yogya

INSTITUTE FOR RESEARCH AND EMPOWERMENT (IRE) adalah sebuah lembaga independen, nonpartisan, dan nonprofit yang berbasis pada komunitas akademik di Yogyakarta. Fokus kegiatan IRE adalah memperluas dan memperdalam demokrasi melalui penguatan gagasan, sikap kritis serta tindakan taktis elemen masyarakat sipil, masyarakat politik, masyarakat ekonomi, dan negara.

LATAR BELAKANG
INSTITUTE FOR RESEARCH AND EMPOWERMENT (IRE) berdiri di Yogyakarta pada tanggal 02 Juni l994. Pendirian lembaga ini berangkat dari sebuah respons terhadap hilangnya otonomi dan daya kritis masyarakat dalam menghadapi berbagai bentuk konstruksi sosial politik yang respresif dan diskriminatif, yang berasal dari rezim global, negara, pasar, maupun konteks sosio-kultural yang berakar dalam masyarakat. Masyarakat sangat tidak berdaya (powerless) ketika berhadapan dengan struktur sosial politik dan kultur yang melingkupinya.


Ketidakberdayaan masyarakat lokal karena kontrol dan dominasi melalui sarana-sarana represif negara di tangan birokrasi dan militer. Lewat pasar, negara melakukan monopoli dan eksploitasi yang menimbulkan masyarakat dalam posisi marginal.   Meskipun negara tampil dominan dan hegemonik, tetapi dikelola secara tidak transparan dan tidak bertanggungjawab, bahkan digerogoti oleh praktik-praktik perampasan dan korupsi yang merajalela. Dalam konteks ini yang terjadi adalah negara yang lembek (soft state), yakni negara yang miskin kapasitas dalam mengawal transformasi ekonomi, redistribusi sosial dan mengelola konflik antar aktor sosial dalam masyarakat.


Di sisi lain masyarakat dalam posisi marginal karena dampak dari imperialisme rezim global melalui media pasar. Rezim global menimbulkan ketergantungan masyarakat melalui media negara. Bahkan rezim global melancarkan homogenisasi dan regimentasi budaya melalui media sosio-kultural yang menyebabkan  alienasi dan isolasi masyarakat. Dalam konteks sosio-kultural, dimana masyarakat hidup sehari-hari, juga terjadi diskriminasi melalui instrumen agama, etnis, gender, umur, ras, dan sebagainya, sehingga menimbulkan uncivility.
   

Era transisi demokrasi pasca tumbangnya Orde Baru membuka harapan baru bagi masyarakat Indonesia, sekaligus juga tantangan. Restriksi negara mulai mengendor, tetapi euforia di era transisi justru diikuti dengan merebaknya kekerasan horizontal dalam konteks sosio-kultural masyarakat. Orang bisa melihat merebaknya kekerasan horizontal di berbagai daerah atau munculnya “tirani mayoritas” yang berbasis pada agama, etnis, ras, dan sebagainya. Di tempat lain, masyarakat lokal juga belum bisa lepas dari tekanan rezim internasional yang melewati media pasar dan konteks sosio-kultural.


Ketidakberdayaan masyarakat lokal itulah yang sampai saat ini tetap menjadi “justifikasi sosial” bagi IRE untuk tetap eksis di tengah-tengah masyarakat. Melalui upaya-upaya pemberdayaan IRE tetap berkiprah untuk memberikan sumbangsih bagi terwujudnya kemandirian dan democratic civility masyarakat lokal.

Kembali Ke Atas Kembali Ke Atas