CSR dan Kesejahteraan Masyarakat

15 November 2017 - 14:16 WIB | mahmud |

Foto untuk Web Ok

Diskusi bulanan IRE kali ini membahas mengenai “Corporate Social Responsibility (CSR) dan Pembangunan Desa” yang menghadirkan tiga narasumber yaitu Yanin Kholison (Manager Perizinan Non Teknis – Divisi Formalitas SKK Migas), Askania Fadima (Analyst Department Government Relations & Social Responsibility Saka Energy), dan Dr. Krisdyatmiko (Peneliti Senior IRE & Dosen Fisipol UGM). Diskusi ini di moderatori oleh Titok Hariyanto (Peneliti Senior IRE) dan dibuka oleh Sunaji Zamroni, M.Si selaku Direktur Eksekutif IRE. Pak Sunaji mengawali diskusi ini dengan pertanyaan mengenai apakah ada kemungkinan CSR dan program pembangunan desa dapat berjalan secara beriringan sehingga dapat menghasilkan program yang bersinergi antara keduanya. Selain itu beliau juga menyingung mengenai perencanaan CSR yang harusnya dapat mengikuti atau menyesuaikan RPJM Desa yang sudah terbentuk sebelumnya sehingga dapat memenuhi apa saja kebutuhan desa.

Materi pertama dibuka oleh Yanin Kholison yang melakukan overview singkat mengenai industri hulu migas. Para peserta diskusi disuguhkan penjelasan mengenai alur bisnis industri migas di Indonesia dan fungsi serta tugas SKK migas yaitu melaksanakan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi berdasarkan kontrak kerja sama. Dewasa ini, kondisi hulu migas Indonesia mengalami beberapa permasalahan seperti infrastruktur jaringan gas bumi yang belum merata, fasilitas operasi produksi yang sudah menua, cadangan migas yang semakin menipis, penurunan produksi migas, penemuan eksplorasi yang semakin mengecil, dan masalah non teknis. Karakter utama industri hulu migas dapat diartikan sebagai industri yang padat modal, beresiko tinggi, membutuhkan teknologi tinggi dan bersifat jangka panjang. Meskipun industri migas terkesan riskan, migas masih berperan vital bagi negara baik sebagai sumber pendapatan negara maupun sebagai pasokan energi primer.

Bentuk tanggung jawab social yang dilakukan oleh industri hulu migas dibagi menjadi beberapa bidang kegiatan seperti pendidikan, infrastruktur, studi, kesehatan, lingkungan, ekonomi dan bencana alam. Desa yang telah tersentuh TJS (tanggug jawab social) industri migas (data 2015) adalah sebanyak 8.833 desa dan 20 propinsi. Desa terbanyak yang menjadi lokasi program berada di region Kalimantan dan Sulawesi.

Selanjutnya, Aska Fadima, Saka Energy PGN, lebih banyak menjelaskan mengenai kerangka dan alur kerja CSR suatu perusahaan yang biasanya dimulai dengan menggali isu di masyarakat dan dilanjutkan dengan deep interview untuk melihat apakah isu tersebut relevan dengan kondisi yang sesungguhnya. Setelah itu akan muncul roadmap yang sesuai dengan kondisi, isu, dan keperluan masyarakat desa. Namun praktiknya, hal ini juga tidak sepenuhnya dapat terjadi dengan mudah karena bergantung dengan akselerasi masyarakat. Sinergitas antara program CSR dan PRJM Desa perlu dilakukan karena hal tersebut dapat membentuk mitra yang baik antara kedua belah pihak dan dapat dilakukan dengan melihat isu yang muncul di masyarakat yang kemudian diteruskan dalam FGD dan dikonfirmasi. Perusahaan lebih akan menawarkan sarana dan prasarana kepada desa serta membentuk program yang relevan terhadap desa dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Contoh program dari Saka Energy adalah LIPAN. Program ini merupakan program air bersih di wilayah Ujungpangkah. Wilayah Ujungpangkah merupakan wilayah pesisir pantai. Output yang dihasilkan adalah masyarakat sekarang dengan mudah mengakses air bersih dan menjadi lebih higenis. Selain itu dibentuk tim sanitasi desa yang terdiri dari kader- kader desa yang ingin mengakselerasi proram yang ada. Selain itu juga terdapat bank sampah dikelola oleh BUMDesa sehingga mampu menggerakkan perkonomian desa. Pengembangan program CSR ini diharapkan akan dapat memunculkan Agent of Change yang baru dan terus terkaderisasi.

Diskusi bulanan_web_ok

Pembicara selanjutnya, Krisdyatmiko, menjelaskan, bagaimana singergitas antara perusahaan dan desa dalam pembangunan sangat diperlukan, perusahaan perlu melakukan CSR karena mereka perlu untuk melaksanakan tanggung jawab social operasi yang telah mereka lakukan. “Mewujudkan kesejahteraan sosial tidak hanya menjadi tanggungjawab negara melainkan juga masyarakat dan bisnis,” tambah Kris, yang juga Ketua Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSDK) Fisipol UGM.

 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa dan Rencana Kerja Pemerintah Desa/RPJMDes merupakan satu-satunya dokumen perencanaan di Desa yang diharapkan dapat menjadi payung agar ada kolaborasi dan koordinasi kerjasama yang jelas antara keduanya. Krisdyatmiko, dalam penjelasannya juga menambahkan agenda apa saja yang harus dilakukan oleh perusahaan dan desa agar sinergitas dalam upaya meberian bantuan CSR dapat tercapai.

Sesi selanjutnya di lanjutkan oleh tanya jawab, sharing, kritik, dan saran serta diskusi terbuka bagi para peserta disuksi dimana salah satu penanya yaitu pak Biwa yang merupakan wakil ketua kelompok petani nusantara memberikan masukan yang cukup menarik bagi program CSR yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan dimana CSR haruslah terencana, terukur, terintegrasi, dan terkawal. Sehingga dalam praktiknya benar benar melibatkan komponen masyarakat dan tidak hanya ceremonial saja.

Hal ini di tanggapi oleh Pak Yanin dengan positif, beliau mengatakan “Program CSR memang seharusnya dapat terencana, terukur dan terkawal. Namun permasalahannya biasanya program CSR tidak mampu mengakomodisir semua masyakarat, di satu sisi perusahaan dapat mengembangkan program ideal, namun ada saja komoditas yang tidak terakses sehingga memunculkan permasalahan social,” ujar Yanin.

“Ada dilemma ketika berhasil membuat pilot program CSR karena terkadang ada sisi sisi yang tidak tersentuh sehingga membuat hal tersebut tidak seimbang,” tambah Yanin. Titok Hariyanto selaku moderator menutup disuksi kali ini dengan mengatakan bahwa masyarakat haruslah aktif untuk memperjuangkan kepentingannya dengan program yang ditawarkan oleh perusahaan. Memang akan menjadi pekerjaan rumah ketika program CSR harus di sinergitskan dengan RPJM Desa. Catatan diskusi ini terlihat bahwa masih banyak pekerjaaan rumah yang harus diperhatikan dalam upaya sinergitas CSR dan pembangunan desa baik pada level desa, perusahaan dan masyakarat.

Ananda Putri Liana
Mahasiswa Magang Unibraw

 

 



Leave a comment:

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

*